Sabtu, 17 Maret 2012

Kesehatan Mental Ibu Pengaruhi Bahasa Bayi

Muhammad Ali

06/03/2012 11:49 | Kesehatan
Liputan6.com, Vancouver: Orangtua pasti gemas mendengar ocehan sang buah hati saat ia mulai belajar mengucapkan kata-kata. Proses perkembangan bahasa si kecil ternyata tergantung dari kondisi mental sang Ibu selama masa kehamilan.
Seperti dilansir myhealthnewsdaily.com, belum lama ini, seorang Profesor Psikologi di University of British Columbia, Inggris, Janet Werker, mengatakan para peneliti tak yakin bila proses perkembangan bahasa bayi tersebut memiliki efek ke depan bagi kemampuan bahasa mereka. Mereka meyakini, setiap bayi memiliki kemampuan utama dalam memperoleh bahasa.
Ia menjelaskan, setiap bayi yang dilahirkan memiliki kemampuan belajar bahasa apapun. Dan ia dapat membedakan suara dari berbagai bahasa yang berbeda. Namun, pada usia 6 sampai 10 bulan, mereka mulai memperhatikan lebih banyak suara bahasa asli mereka,dibanding suara bahasa lain, Selasa (6/3).
Dalam riset barunya, Werker dan rekan melakukan tes kemampuan bahasa bayi yang lahir dari ibu yang bebas dari depresi untuk membedakan antara suara konsonan yang bukan bahasanya. Hasilnya, bayi dari ibu tanpa depresi menunjukkan pola perkembangan bahasa normal, yaitu para bayi dapat membedakan suara konsonan tersebut di usia 6 bulan, tetapi pada usia 10 bulan mereka telah kehilangan kemampuan ini.
Sebaliknya, bayi dari ibu yang terkena depresi bisa membedakan suara konsonan di usia 10 bulan. Dan uniknya, bayi yang terlahir dari ibu yang terkena depresi lalu meminum obat antidepresi, bayinya tidak dapat membedakan suara konsonan di kedua jenjang usia tersebut.
"Karena efek kesehatan mental pada ibu berpengaruh pada bayi mereka, maka wanita harus diperiksa tingkat depresinya sebelum dan selama kehamilan agar dapat dikelola secara efektif," kata Dr Tim Oberlander, seorang profesor perkembangan pediatri di University of British Columbia, Inggris.
Untuk itu, bagi para ibu yang ingin buah hatinya tumbuh normal kecerdasan bahasanya, cobalah kelola stres dengan menjalani pola hidup sehat. Kemampuan bahasa penting dimiliki anak untuk menumbuhkan kecerdasan pada bidang lainnya. (MEL)

KESEHATAN MENTAL


Pada zaman dahulu ketika tekhnologi belum dikenal oleh masyarakat umum secara luas setiap penyakit yang diderita oleh manusia sering sekali dikait-kaitkan dengan hal-hal yang berbau spiritual dan alam gaib, setiap penyakit dihubung-hubungkan dengan gangguan makhluk halus, oleh karena itu orang yang sakit lebih memilih berobat kedukun atau orang pintar yang dianggap bisa berkomunikasi langsung dengan makhluk halus ketimbang berobat ke tabib yang mengerti tentang jenis penyakit berdasarkan ilmu perobatan.
Pergeseran zaman dan kemajuan tekhnologi tidak dapat terelakkan lagi, saat ini penyakit sudah dapat dilihat dan diobati dengan obat-obatan yang bagus dengan menggunakan metode pengolahan canggih, perkembangan ilmu pengetahuan dapat lebih menspesifikkan penyakit-penyakit tersebut. Ada penyakit yang bersumber dari virus, bakteri atau baksil-baksil sehingga untuk mengobatinya membutuhkan obat-obatan medis, tetapi ada juga penyakit yang bersumber dari jiwa atau hati suatu individu, jadi secara fisik individu tersebut tidak terkena virus, bakteri atau baksil-baksil, namun pada kenyataannya individu tersebut sakit.
Penyakit tersebutlah yang dinamakan dengan penyakit hati atau penyakit mental, untuk mengatasi penyakit tersebut diperlukan menejemen hati atau mental yang baik sehingga dapat membentuk kesehatan mental yang berimbas pada kesehatan secara fisik individu tersebut.
Pada makalah ini kami akan berusaha menyajikan tentang Agama dan Kesehatan Mental sebaik mungkin yang kami dapat dari literatur-literatur yang telah kami dapatkan.

Pengertian Kesehatan Mental
Istilah Kesehatan Mental diambil dari konsep mental hygiene, kata mental berasal dari bahasa Yunani yang berarti Kejiwaan. Kata mental memilki persamaan makna dengan kata Psyhe yang berasal dari bahasa latin yang berarti Psikis atau Jiwa, jadi dapat diambil kesimpulan bahwa mental hygiene berarti mental yang sehat atau kesehatan mental.
Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial) (Mujib dan Mudzakir, 2001, 2003).
Mental yang sehat tidak akan mudah terganggu oleh Stressor (Penyebab terjadinya stres) orang yang memiliki mental sehat berarti mampu menahan diri dari tekanan-tekanan yang datang dari dirinya sendiri dan lingkungannya. (Noto Soedirdjo, 1980) menyatakan bahwa ciri-ciri orang yang memilki kesehatan mental adalah Memilki kemampuan diri untuk bertahan dari tekanan-tekanan yang datang dari lingkungannya. Sedangkan menurut Clausen Karentanan (Susceptibility) Keberadaan seseorang terhadap stressor berbeda-beda karena faktor genetic, proses belajar dan budaya yang ada dilingkungannya, juga intensitas stressor yang diterima oleh seseorang dengan orang lain juga berbeda.

Ciri-ciri Kesehatan Mental
Ciri-ciri kesehatan mental dikelompokkan kedalam enam kategori, yaitu:
1.    Memiliki sikap batin (Attidude) yang positif terhadap dirinya sendiri.
2.    Aktualisasi diri
3.    Mampu mengadakan integrasi dengan fungsi-fungsi yang psikis ada
4.    Mampu berotonom terhadap diri sendiri (Mandiri)
5.    Memiliki persepsi yang obyektif terhadap realitas yang ada
6.    Mampu menselaraskan kondisi lingkungan dengan diri sendiri. (Jahoda, 1980).
Pada abad 17 kondisi suatu pasien yang sakit hanya diidentifikasi dengan medis, namun pada perkembangannya pada abad 19 para ahli kedokteran menyadari bahwa adanya hubungan antara penyakit dengan kondisi dan psikis manusia. Hubungan timbal balik ini menyebabkan manusia menderita gangguan fisik yang disebabkan oleh gangguan mental (Somapsikotis) dan sebaliknya gangguan mental dapat menyebabkan penyakit fisik (Psikomatik).
Memasuki abad 19 konsep kesehatan mental mulai berkembang dengan pesatnya namun apabila ditinjau lebih mendalam teori-teori yang berkembang tentang kesehatan mental masih bersifat sekuler, pusat perhatian dan kajian dari kesehatan mental tersebut adalah kehidupan di dunia, pribadi yang sehat dalam menghadapi masalah dan menjalani kehidupan hanya berorientasi pada konsep sekarang ini dan disini, tanpa memikirkan adanya hubungan antara masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
Hal ini jauh berbeda dengan konsep kesehatan berlandaskan agama yang memiliki konsep jangka panjang dan tidak hanya berorientasi pada masa kini sekarang serta disini, agama dapat memberi dampak yang cukup berarti dalam kehidupan manusia, termasuk terhadap kesehatan.
Orang yang sehat mental akan senantiasa merasa aman dan bahagia dalam kondisi apapun, ia juga akan melakukan intropeksi atas segala hal yang dilakukannya sehingga ia akan mampu mengontrol dan mengendalikan dirinya sendiri. Solusi terbaik untuk dapat mengatasi masalah-masalah kesehatan mental adalah dengan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, kesehatan mental seseorang dapat ditandai dengan kemampuan orang tersebut dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya, mampu mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sendiri semaksimal mungkin untuk menggapai ridho Allah SWT, serta dengan mengembangkan seluruh aspek kecerdasan, baik kesehatan spiritual, emosi maupun kecerdasan intelektual.
Hal ini dapat ditarik kesimpulan karena pada dasarnya hidup adalah proses penyesuaian diri terhadap seluruh aspek kehidupan, orang yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya akan gagal dalam menjalani kehidupannya. Manusia diciptakan untuk hidup bersama, bermasyarakat, saling membutuhkan satu sama lain dan selalu berinteraksi, hal ini sesuai dengan konsep sosiologi modern yaitu manusia sebagai makhluk Zoon Politicon.

Gangguan Mental
Gangguan mental dapat dikatakan sebagai perilaku abnormal atau perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dimasyarakat, perilaku tersebut baik yang berupa pikiran, perasaan maupun tindakan. Stress, depresi dan alkoholik tergolong sebagai gangguan mental karena adanya penyimpangan, hal ini dapat disimpulkan bahwa gangguan mental memiliki titik kunci yaitu menurunnya fungsi mental dan berpengaruhnya pada ketidak wajaran dalam berperilaku.
Adapun gangguan mental yang dijelaskan oleh (A. Scott, 1961) meliputi beberapa hal :
1.    Salah dalam penyesuaian sosial, orang yang mengalami gangguan mental perilakunya bertentangan dengan kelompok dimana dia ada.
2.    Ketidak bahagiaan secara subyektif
3.    Kegagalan beradaptasi dengan lingkungan
4.    Sebagian penderita gangguan mental menerima pengobatan psikiatris dirumah sakit, namun ada sebagian yang tidak mendapat pengobatan tersebut.
Seseorang yang gagal dalam beradaptasi secara positif dengan lingkungannya dikatakan mengalami gangguan mental. Proses adaptif ini berbeda dengan penyesuaian sosial, karena adaptif lebih aktif dan didasarkan atas kemampuan pribadi sekaligus melihat konteks sosialnya. Atas dasar pengertian ini tentu tidak mudah untuk mengukur ada tidaknya gangguan mental pada seseorang, karena selain harus mengetahui potensi individunya juga harus melihat konteks sosialnya.
Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial) Orang yang sehat mental akan senantiasa merasa aman dan bahagia dalam kondisi apapun, ia juga akan melakukan intropeksi atas segala hal yang dilakukannya sehingga ia akan mampu mengontrol dan mengendalikan dirinya sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Casmini dkk, 2006, Kesehatan Mental, UIN SUKA
Jalaluddin, 2007, Psikologi Agama, Raja Grafindo Persada
Wanita muslimah, diakses tanggal 12 April 2008, Agama Kunci Kesehatan, www.archiv.com,
Moeljono Soedirjo dan Latipun, 2005, Kesehatan Mental Konsep dan Terapi, UMM Press
Kartini Kartono, 2000, Hygiene Mental, Bandar Maju
Dadang Hawari, 1996, Al-Quran i\Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, Dana Bakti
Prima Yasa
Zakiah Daradjat, 1995, Kesehatan Mental, Gunung Agung
oleh : M. Fuad Hasyim dkk.

Minggu, 13 November 2011

You Can

Memiliki fisik yang lengkap atau sempurna merupakan suatu anugerah yang telah diberikan Tuhan dan kita  harus mensyukurinya, dengan fisik yang lengkap kita dapat melakukan berbagai kegiatan untuk meraih prestasi. Tetapi ternyata tidak hanya orang-orang yang memiliki fisik lengkap saja yang bisa berprestasi, orang-orang yang tidak berfisik sempurna atau cacat pun dapat melakukannya. Tepatnya setelah saya menonton film yang berjudul you can. Menurut saya film ini sangat menginspirasi bagi semua orang karena film tersebut menceritakan tentang semangat juang yang tinggi dan tekad keras orang-orang yang memiliki fisik tidak sempurna untuk meraih prestasi dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya.

Jalan yang mereka tempuh sangat sulit, tetapi mereka terus berusaha hingga mencapainya. Mereka juga dapat membuktikan bahwa keterbatasan fisik yang dimilikinya bukanlah suatu halangan hingga akhirnya mereka mampu untuk berprestasi. Ini merupakan hal yang sangat positif yang bisa mereka lakukan dan dapat membuka pikiran para penyandang cacat yang lain. Pada tayangan film tersebut, orang-orang yang memiliki cacat pada tangan dan kaki mengikuti perlombaan olah raga seperti; berenang, lari, lompat indah dan lain sebagainya yang diadakan secara khusus bagi mereka dengan kondisi keterbatasan fisik. Tidak hanya itu salah satu program TV pun pernah menayangkan kisah seorang pelukis yang cacat pada tangannya sehingga dia melukis dengan menggunakan ke dua kakinya.

Dengan demikian kita dapat pelajaran dari semangat dan kegigihan mereka dalam berprestasi, bukan suatu hal yang tidak mungki jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Apalagi dengan fisik kita yang lengkap seharusnya kita dapat melakukannya lebih dari mereka. Prestasi yang mereka capai pun bukanlah hal yang mudah, harus benar-benar berusaha sangat keras untuk mendapatkannya. Keterbatasan fisik yang mereka miliki nyatanya tidak menghalangi mereka untuk tetap berkarya dan berkarir. Mereka tidak berputus asa dan mengubah keterbatasan menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi dan kekuatan untuk maju.